Senin, 19 November 2018

Menyemai Kesadaran Ekologis [Resensi “Lingkungan Hidup dan Kapitalisme” – Fred Magdoff]






Data Buku
Judul: Lingkungan Hidup dan Kapitalisme: Sebuah Pengantar
Penulis: Fred Magdoff dan John Bellamy Foster
Penerjemah: Pius Ginting
Penerbit: Marjin Kiri, Tangerang Selatan
Cetakan: I, Agustus 2018
Ukuran: 14 × 20,3 cm
Tebal: xiv + 188 hlm.
ISBN: 978-979-1260-80-0



AKHIR Agustus 2018 lalu, tujuh tahun setelah buku ini terbit pertama kali di Amerika Serikat dengan judul What Every Environmentalist Needs to Know About Capitalism: A Citizen’s Guide to Capitalism and the Environment, sebuah kelompok peneliti independen dari Finlandia menyusun Rancangan Laporan Pembangunan Berkelanjutan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam laporan yang akan dirilis pada awal 2019 itu, kelompok peneliti itu menyimpulkan bahwa praktik kapitalisme modern mesti diakhiri demi menghentikan risiko perubahan iklim yang lebih ekstrem.

Kerusakan lingkungan dalam skala planet memang mengkhawatirkan. Dalam bab pertama buku ini, Krisis Ekologi Skala Planet, Fred Magdof dan John Bellamy Foster merinci tanda dan buktinya. Di antaranya, pemanasan global, perubahan iklim, dan krisis air.

Senin, 29 Oktober 2018

Pembaca Buku yang Memilih Menjadi Pelacur [Resensi “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur” – Muhidin M. Dahlan]





Data Buku
Judul: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: ScriPta, Yogyakarta
Cetakan: XVI, Maret 2016
Ukuran: 12 × 19 cm
Tebal: 269 hlm.
ISBN: 979-99461-1-5



LIMA belas tahun setelah novel ini terbit, saya baru membacanya. Terlambat? Tidak juga. Ini novel. Bukan hard news di media daring. Oh ya, satu lagi, pada dasarnya, semua buku yang belum pernah dibaca adalah buku baru. Setidaknya bagi saya.

Saya menduga, novel ini termasuk salah satu karya awal Muhidin M. Dahlan. Selanjutnya, kita sebut ia sebagai Gus Muh saja. Kabarnya, begitulah orang akrab memanggilnya.

Saya pernah membaca beberapa bukunya di toko buku. Tiga-empat halaman. Toko buku bukan perpustakaan toh? Itu dulu sekali. Alhamdulillah, akhirnya saya berkesempatan membaca salah satu karyanya, novel ini, hingga khatam.

Saya lebih rajin membaca artikel Gus Muh di pelbagai media. Bagi saya, buku-buku dan artikel-artikelnya yang terbit kemudian jauh lebih bagus daripada novel ini. Alurnya. Tata bahasanya. Impresinya. Semuanya.

Senin, 24 September 2018

Masih Adakah yang Berani Berkata Benar? [Resensi “Parrhesia” – Michel Foucault]






Data Buku
Judul: Parrhesia: Berani Berkata Benar
Penulis: Michel Foucault
Editor: Joseph Pearson
Penerjemah: Haryanto Cahyadi
Penerbit: Marjin Kiri, Tangerang Selatan
Cetakan: I, Mei 2018
Ukuran: 12 × 19 cm
Tebal: x + 209 hlm.
ISBN: 978-979-1260-78-7



MICHEL FOUCAULT (1926-1984) adalah salah satu pemikir terbesar Prancis abad ke-20. Teori-teorinya mengurai hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan serta penggunaannya sebagai kontrol sosial melalui institusi kemasyarakatan. Pada galibnya, ia dikelompokkan sebagai filsuf pascamodern dan pascastruktural, meski ia menampiknya. Ia lebih suka menyebut pemikirannya sebagai kritik modernitas.

Karya-karya Foucault berpengaruh besar pada bidang kajian budaya, sosiologi, feminisme, dan teori kritis. Buku bartajuk Parrhesia: Berani Berkata Benar ini diterjemahkan dari bahasa Inggris dan disusun berdasarkan rekaman kaset enam ceramahnya di Universitas California, Berkeley, pada musim gugur 1983, sebagai bagian dari seminarnya tentang “Wacana dan Kebenaran”. (hlm. vii)

Kata parrhesia muncul kali pertama dalam kesusastraan Yunani pada karya-karya Euripides sekira 484-407 SM. Kata ini selanjutnya berkembang luas di dunia kesusastraan Yunani antik sejak akhir abad kelima SM.

Senin, 17 September 2018

Melihat Kemiskinan dengan Kacamata Lain [Resensi “Tempat Terbaik di Dunia” – Roanne van Voorst]






Data Buku
Judul: Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog 
Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta
Penulis: Roanne van Voorst
Penerjemah: Martha Dwi Susilowati
Penerbit: Marjin Kiri, Tangerang Selatan
Cetakan: I, Juli 2018
Ukuran: 14 × 20,3 cm
Tebal: vi + 192 hlm.
ISBN: 978-979-1260-79-4



ROANNE VAN VOORST adalah seorang antropolog dari Belanda yang sedang mengumpulkan data untuk disertasinya. Dia meneliti respons masyarakat miskin terhadap banjir. Dalam buku ini, dia mengisahkan amatannya yang mendalam dan hidup atas kampung kumuh dan rawan banjir di Jakarta. Kini, kampung itu telah digusur oleh kuasa.

Awalnya, Roanne tak menemukan lokasi kampung yang tepat untuk dia teliti. Birokrat enggan berbagi informasi. Mereka berdalih bahwa lokasi itu rawan bencana. Kemiskinan juga menjadikan penduduk di sana menjadi jahat.

Di tengah keputusasaan, Roanne justru menemukan kampung itu tanpa dia duga. Seorang pengamen yang dia jumpai dalam bus kota, Tikus namanya, bukan nama sebenarnya, menawari Roanne, "Mau ikut?"

Rabu, 12 September 2018

Menyalahkan Kekeliruan, Mengaprahkan Kebenaran [Resensi “Xenoglosofilia” – Ivan Lanin]





Data Buku
Judul: Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris?
Penulis: Ivan Lanin
Penerbit: Kompas Media Nusantara, Jakarta
Cetakan: I, 2018
Ukuran: 13 × 19 cm
Tebal: xviii + 214 hlm.
ISBN: 978-602-412-412-0 (Soft Cover)




MENGAPA Ivan Lanin memilih kenapa—kata tanya untuk menanyakan sebab atau alasan dalam ragam percakapan—dan bukan mengapa sebagai subjudul bukunya? Saya menduga, ia hendak menunjukkan bahwa dalam bukunya itu, alih-alih seberat paparan pakar linguistik, ia justru membahas dan mengusulkan kata yang baku dalam bahasa Indonesia seringan percakapan di warung kopi.