SEPERTI
biasa. Tempo hari, menjelang subuh, ia bangun. Yang tak biasa, ia membuka
kelopak mata dan seketika bertanya, “Kapan Mas Dhaya ulang tahun, Abi?”
“Tulat,
Nak,“ jawab saya.
“Harus
ada roti, tiup lilin, kado, terus semua mengucap selamatkah?” tanyanya. Lengkap
dengan aksen Melayu. Ah, ia terlalu banyak menonton Upin-Ipin.
Saya
mengeloninya. Saya jawab, “Tidak. Abi merayakan ulang tahun dalam sunyi. Mas
Dhaya perlu begitu juga. Bermenung, Nak.”
“Bermenung?”
gumamnya.