Sabtu, 02 Juni 2018

Yang Muda yang (Membayangkan) Bercinta


KAWAN saya, sebut saja namanya Kliwon—sesuai nama samarannya, ia lahir dengan weton Kliwon—bercerita bahwa ia mengintip orang tuanya bercinta. Saya penasaran. Bagaimana bisa?

Mau bêngi, paling dikirå aku wis turu. Bapak-ibu mlêbu kamar têrus lawangé dikunci. Biasané ora. Pênasaran. Dakincêng saka bolongan kunci,” jelasnya. Tentu saja, kawan saya itu lalu menceritakan adegan demi adegan berikutnya. Ah, sudah, biar saya simpan sendiri. Daripada sampean batal puasa karenanya.

Rabu, 30 Mei 2018

Sabar


MASIH ingat, siapa yang pernah mengajarkan sikap sabar kepada sampean?

Bagi saya, salah satunya adalah bapak. Melalui ia, saya belajar bersabar dalam menerima apa pun yang diberikan oleh Gusti Allah. Narimå ing pandum secara lêgå, lilå, dan ikhlas.

Sejak menikah, bapak tinggal di rumah mertua. Bapak dan mama saya belum punya rumah sendiri. Rumah yang dibeli menggunakan uang hasil jerih payah sendiri. Bukan rumah warisan. Mereka pasangan muda. Mama, 26 tahun usianya. Bapak 2 tahun lebih tua.

Selasa, 22 Mei 2018

Tolak


NAMANYA Tolak Ani. Dia kawan saya. Entah mengapa, tetiba saya teringat padanya. Dia perempuan baik. Sangat baik, malah. Dia menikah dengan lelaki yang sama baiknya dan punya anak-anak yang baik. Saya mengenalnya sembilan tahun lalu saat saya bertugas di Banyuputih, Situbondo.

Seingat saya, dia lahir dan diberi nama Ani oleh orang tuanya. Ani kecil sering sakit-sakitan. Maka, orang tuanya menambahkan kata tolak di depan namanya. Sejak itu, dia bernama Tolak Ani. Dan, dia tak sakit-sakitan lagi.

Saya tentu tak percaya kesehatannya membaik karena penambahan kata tolak. Itu hanya kepercayaan masyarakat setempat saja. Akibat mitos itu, ada banyak orang bernama Tolak. Dan, semakin bertambah sedikitnya dua kali lipat. Sebab, orang tua serta merta akan kehilangan namanya dan disebut dengan nama anaknya. Pa’(na) Tolak. Bapaknya Tolak.

Kamis, 17 Mei 2018

Puasa


Nèk lêmu, iså tênang nèk kêtêmu wång tuwå,” kata Ariyo, “wång tuwå ora mikir rênå- rênå. ‘Anakku kok kuru, åpå (o)ra tau di(we)nèhi mangan karo bojoné?’”

Siang itu, kami sedang makan di kantor. Jemuwah Kliwon. Dua puluh April 2018. Obrolan itu bumbunya.

Saya kisahkan kepada Ariyo, kawan saya, bahwa ada orang tua yang justru tak senang jika anaknya gemuk, karena: (1) khawatir anaknya berisiko menderita sakit tertentu, semisal jantung, hipertensi, atau kolesterol, dan (2) merasa bahwa mereka tak berhasil mendidik anaknya menjadi manusia yang asketik.

Bapakku, pas pirså nèk aku lêmu, ngêndikå, Kowé kok bêngêp kabèh ngunu, Feb. Kowé rak ora åpå-åpå tå?’” cerita saya.

Begitulah. Di Jawa, tubuh memang mendapat perhatian khusus. Pewayangan, cerminannya. Dunia bayang-bayang. Idealisasi kehidupan manusia Jawa.

Selasa, 15 Mei 2018

Bom Surabaya


SAYA tak takut kepada bom. Sama sekali. Itu hanya semacam mercon impling, petasan cabe atau ceplik, yang lebih besar saja. Namun, saya takut kepada kebencian.

Minggu pagi, 4 hari menjelang Ramadan, seperti diwartakan media, 3 bom bunuh diri meledak di 3 gereja di Surabaya. Diduga, bom itu diledakkan oleh keluarga yang terdiri atas bapak, ibu, 2 anak lelaki (18 dan 16 tahun), dan 2 anak perempuan (12 dan 9 tahun). Piyé mereka itu, Minggu wayahe siram-siram tanduran utåwå silaturahim ke rumah kerabat atau kawan-kawan, malah dolanan bom.