Selasa, 08 Mei 2018

Dinosaurus, Roti Bakar, dan Guling


DUA puluh sembilan April 2018. Saya sedang membaca. Mas Dhaya sedang mewarnai robot, Optimus Prime, gambaran saya. Tetiba, ia teringat sesuatu.

“Abi masih seneng lihat foto Mas Dhaya di kos-kos Abi?” tanyanya. Ia menyebut indekos sebagai kos-kosan dengan pelesapan sufiks -an.

Saya mengiakan. Ia bergegas mencari sesuatu di lemarinya.

Sembari menyerahkan selembar kertas bekas, ia berkata, “Ini dikasih gambar sama Mas Dhaya. Biar Abi ingat (Mas Dhaya).”

Ada gambar bulat-bulat di kertas itu. Tertulis namanya juga. Katanya, itu gambar dinosaurus dan telur dinosaurus. Saya memujinya. Meski, sejujurnya, saat seusianya, saya dapat menggambar hewan dan manusia jauh lebih baik. Saya merasa wis kåyå Pak Tino Sidin1 . Semua-muanya dinilai bagus. Eh, sampean rak weruh Pak Tino Sidin ?

Minggu, 06 Mei 2018

Hanya Mi Instan, Bukan yang Lain


SYAHDAN, seorang lelaki bercanda dengan anaknya. Kamar berukuran 3 x 4 meter itu memantulkan tawa mereka.

Sebagian rambut lelaki itu telah memutih. Sepertiga abad lebih umurnya. Mestinya, rambutnya tak secepat itu berubah warna. Ia ingat, perubahan itu mulai tampak saat usianya 27 tahun. Satu-dua saja, kala itu. Bertambah satu-dua lagi saat ia berusia 30-31 tahun. Mungkin, itu seturut tanggung jawabnya yang bertambah.

Memasuki usia 34 tahun, rambut putih itu semakin banyak. Tak hanya di kepala, tapi juga di sebagian besar hidung dan 5 helai di janggutnya. Suatu ketika, seorang kawannya, Yogi namanya, berkomentar, “Cahayanya tambah, Om.”

Ia tersenyum. Cahaya. “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya,” demikian sabda Kangjeng Nabi.1 Maka, sekali lagi ia tersenyum.

Selasa, 01 Mei 2018

Dari Soal Jembatan Widang Sampai Hari Buruh


SEHARI sebelum peringatan Hari Buruh hari ini. Pagi. Lebih kurang pukul 05.25 WIB. Kaum buruh, kaum marhaen, rakyat pekerja, kaum miskin kota, proletar, atau apa pun sebutannya sudah bergelut dengan kemacetan, bising dan sesaknya jalanan, dan segala rupa ketakadilan. Mungkin, usai salat subuh, di antara mereka ada yang memacu adrenalin dengan menyelinap agar tak bertemu pemilik indekos dan ditagih uang sewa. Di tempat lain, diam-diam, pemimpin perusahaan, borjuis, menyeruput kopi. Melihat sekilas ke luar. Mobil mewahnya sudah disiapkan oleh sopirnya sejak tadi. Rencananya, ia akan berlibur bersama dengan keluarganya. Memacetkan jalan bersama dengan buruh-buruhnya yang lain yang bermental borjuis. Alah, apa salahnya menikmati hidup?

Minggu, 22 April 2018

Jangan Salah, Semua Fiktif Belaka. Juga Tulisan Ini.


Kamis lalu. Pukul 03.00 WIB. Ponsel saya berdering. Saya terima.

Bangun, Abi. Sahur. Abi sahur sama apa?” tanya Mas Dhaya di ujung sana.

Saya agak kaget. Jika saya sedang berada di rumah, ia memang biasa ikut bangun saat saya sahur. Sejak belum genap setahun usianya. Namun, ia jarang bangun sepagi itu, lebih-lebih membangunkan saya, ketika saya tak sedang berada di rumah.

Kemarin lusa, ia melakukan hal serupa. Ia telepon saya. Pagi-pagi. “Bangun, Abi. Katanya mau jalan-jalan,” katanya, “Mas Dhaya agak panas, Abi. Flu. Tapi, nggak apa-apa kok. Insya Allah cepat sembuh.

Saya belum menanggapi. Ia sudah melanjutkan, “Sudah dulu ya, Abi. Boleh dimatikan, Abi? Aku sayang sama Abi.

Telepon ditutup. Singkat. Padat. Seperti mimpi saja.

Senin, 16 April 2018

Mau Sesak-Menyesak dalam Bus Umum?


TELAT 1 jam dari rencana. Ummu Mas Dhaya berencana balik ke Mojokerto kemarin, Minggu, 15 April 2018, sekira pukul 12.00 WIB. Namun, Mas Dhaya masih umek aé. Owel jawané. Apa ya bahasa Indonesianya? Entahlah.

Sehari sebelumnya, Mas Dhaya sudah bilang, “Besok, kalau Mas Dhaya nangis, berarti nggak jadi balik Minggu, ya. Senin pagi saja.” Ummi-nya mencibir. “Hèlèh, pancèn Mas Dhaya berencana balik Senin, kan?

Sabtu malam. Seperti biasa, Mas Dhaya tidur sambil memeluk saya. Lebih erat daripada malam-malam sebelumnya.