Sabtu, 14 April 2018

Maafkan Kedunguan Saya. Itu saja.


THALABUL ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin. Rawāhu Ibnu Mājah,” kata Mas Dhaya. Lancar. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (H.R. Ibnu Majah).

Itu hadis kesembilan yang ia hafal. Saat itu usianya baru 3 tahun. Ia baru nyantri di pondok pesantren di Pungging, Mojokerto. Sekira 7 km dari rumah mertua; tempat kami menumpang tinggal. Sebenarnya, tak jauh dari rumah mertua, lebih kurang 100 m, ada pondok pesantren lain. Lebih lama didirikan. Namun, di antara beberapa pesantren yang kami nilai pas dengan kriteria kami, Mas Dhaya memilih pesantren tempat nyantri-nya sekarang. Jadi ya, sudahlah.

Di pesantren itu, santri usia PAUD, ditarget hafal sekurangnya 60 hadis dan 2 juz al-Quran. Perlu disiplin dan pembiasaan, memang. Namun, karena suasana saat ziyadah dan muraja’ah dibikin santai, berbasis alam, tampaknya santri-santri kecil itu, termasuk Mas Dhaya, tak merasa terbebani.

Rabu, 11 April 2018

Operating System yang Halal


KANGJENG Nabi itu luar biasa. Bahkan dalam hal makan saja, yang tampaknya remeh bagi sebagian orang, beliau contohkan. Nanging nganu yå, kurange awake dhewe kuwi rak ora tau, arang, bahkan ngremehne ngaji bab ngunu kuwi. Padahal, itu dekat dengan keseharian. Dadi yå ora gumun nek suwe-suwe kita ini ndak ada mirip-miripnya dengan Kangjeng Nabi. Lha wong beliau lemah lembut. Alus. Apikan. Romantis. Bahkan terhadap orang yang jahat kepada beliau. Lha awake dhewe? Bukan alim, bukan nabi, bukan rasul, tapi gayane biyuh-biyuh. Kasare ora karuan. Kasar, keras, dan tegas kuwi lak bedå, tå? Jan-jane kita ini umat Kangjeng Nabi atau Abu Lahab sih?

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa madharan, perut, Kangjeng Nabi itu rata dengan dadanya. Six pack ngunulah kirå-kirå. Beliau itu kan rajin puasa dan gemar berolah raga. Bahkan, ada kisah beliau berlomba lari dengan Sayyidah Aisyah r.a..

Minggu, 08 April 2018

Tani


Tani iku, mangan ora nempur wis apik. Åjå diitung-itung. Cobå, buwuhan yå ora perlu tuku beras.1

Saya tersenyum ketika kawan saya, Mas Nastain, bercerita tentang prinsip hidup bertani yang disampaikan oleh buruh taninya itu. Duh, saya lupa menanyakan namanya. Yang saya ingat, buruh tani itu telah membantu mengelola sawah bapak mertuanya sejak beliau masih hidup.

Mas Nastain mengaku baru blajaran bertaniMertuanya meninggalkan sawah cukup luas untuk ia kelola. Mas Nastain sarjana. Sehari-hari, ia sebenarnya adalah Pendamping Desa (PD) P3MD.2 Sebelumnya, ia adalah Fasilitator Kecamatan (FK) PNPM Mandiri Perdesaan. Seangkatan, bahkan sekelas saat pelatihan pratugas, dengan saya. Ia biasa ngaji bareng, terutama, ibu-ibu di desa tentang mengelola keuangan keluarga dan usaha. Ngajari mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran. Ia tentu berupaya menerapkan ilmu itu untuk diri sendiri. Eh, lha kok malah disalahne karo buruhe.

Kamis, 05 April 2018

Mirip


DADAH, Abi...,” teriak Mas Dhaya sambil melambaikan tangan kepada saya. Saya membalasnya dari dalam bus. Sambil tersenyum dan menyembunyikan kesedihan, tentu saja. Berpisah dengan anak-istri itu berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja. Halah!

Mas Dhaya dan ummi-nya mengantarkan saya nyegat bus. (dokpri)

Namanya Widhayaka Ujjwala Mahaprasiddha. Ia anak tunggal kami—saya dan istri saya. Sejak kecil, ia biasa kami panggil Mas Dhaya. Saya dan istri saya sama-sama sulung. Saya memiliki 4 adik—semua perempuan—dan istri saya memiliki seorang adik laki. Dalam budaya Jawa, anak adik-adik kami, meski mereka lebih tua, harus memanggil anak kami dengan sebutan mas. Anak kami sangat suka sebutan itu. Ia selalu memperkenalkan diri kepada siapa pun dengan percaya diri, “Mas Dhaya.” Bahkan ia tak segan memprotes keras jika ia dipanggil dengan sebutan dik, “Adik, adik, Mas Dhaya itu kakak, mas, bukan adik. Piye seh!

Rabu, 28 Maret 2018

Merayakan Kepura-puraan


LENGANG. Tetiba jalur pedestrian kosong. Tak ada mbah-mbah yang biasa menjual nasi boranan di depan Hotel Elresas. Warung penyetan dan soto kaki lima tutup. Hanya ada satu mbak-mbak penjual nasi pecel yang tersisa. Saya hampiri.

Ngapunten, Mas. Nasinya sudah habis,” katanya.

Belum rezeki kami, rupanya. Belum rezeki saya diladeni sarapan nasi pecel oleh mbak-mbak manis dan belum rezeki mbaknya meladeni lelaki menyebalkan seperti saya.

Tenang. Tak perlu khawatir. Gusti Allah pasti telah menyediakan hal lain yang lebih pantas untuk kami berdua. Mungkin saya akan ditraktir makan ayam goreng oleh mbak-mbak yang tak hanya manis tapi juga setia. Siapa tahu. Wong Gusti Allah kuwi pancen mbuh kok...