Senin, 26 Maret 2018

Berjalanmu, Kepribadianmu?


SAMPEAN pernah memperhatikan cara sampean atau orang lain berjalan? Semasa sekolah dulu, kawan-kawan saya senang sekali memperhatikan orang lain berjalan. Lawan jenisnya, tentu saja. Kami menyebutnya sebagai objek estetik. Tak hanya memperhatikan, kawan-kawan juga senang menggoda. Contohnya, dengan berucap “kiri, kiri, kiri, kiri,” seperti aba-aba dalam baris-berbaris. Saya, meski tak ikut menggoda tapi membiarkan perbuatan itu terjadi, sama saja turut mendukungnya. Perilaku macam itu dapat masuk kategori kekerasan. Sekurang-kurangnya perundungan. Jangan ditiru. Lagipula, itu sama sekali berbeda dengan memperhatikan.

Senin, 19 Maret 2018

Tuhan dan Penyetan Lamongan


PENYETAN* atau lalapan. Itulah makanan yang paling mudah ditemukan di Lamongan, selain soto dan sega boranan tentu saja. Sebenarnya ada banyak menu penyetan: bebek, ayam, lele, mujair, burung dara, telur, dll., tapi beberapa hari terakhir, saya memilih tempe penyet. Murah meriah. Sekira Rp6 ribu. Cocok untuk kantong saya, anak kos yang sedang berhemat demi membeli sebongkah berlian.


Salah satu warung penyetan di Lamongan

Omong-omong, ada yang tahu, siapa penemu tempe? Kita ini, sering berbangga-bangga karena tahu penemu bohlam, pencetus teori relativitas, dan sebagainya yang serbaasing itu. Namun, kita tak tahu—apalagi bangga—tentang kekhasan sendiri. Ya, tempe itu contohnya.

Tempe dikenal sebagai kekayaan kuliner di Jawa sejak zaman dulu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa istilah tempe tersua di Serat Centhini, sebuah karya ensiklopedis tentang Jawa yang diduga ditulis oleh beberapa orang atas perintah Raja Surakarta. Berdasarkan sumber tersebut, artinya tempe telah dikonsumsi oleh rakyat kebanyakan sekira Abad XVI. Sumber lain menyebutkan bahwa tempe telah dikenal sejak zaman Majapahit.

Senin, 12 Maret 2018

Celetukan Editor Tempo [Resensi "Celetuk Bahasa" - Uu Suhardi]





Data Buku
Judul: Celetuk Bahasa: Mengungkap 100+ Salah Kaprah
Penulis: Uu Suhardi
Penerbit: Pusat Data dan Analisa Tempo, Jakarta
Cetakan: I, 2017
Ukuran: 11 × 16 cm
Tebal: x + 174 hlm.
ISBN: 978-602-6773-15-9



BERDASARKAN pengalaman hampir 30 tahun menjadi editor, Uu Suhardi, penulis buku ini, berkesimpulan bahwa “masalah dalam bahasa Indonesia sebenarnya persoalan mudah, tapi kerap menjadi sulit karena dibikin rumit atau justru digampang-gampangkan”. Lebih lanjut, koordinator redaksi bahasa di grup Tempo ini menyimpulkan bahwa di antara pelbagai masalah kebahasaan itu, yang terbanyak adalah kesalahkaprahan.

Selasa, 26 Desember 2017

Catatan (Singkat) Pelatihan Perempuan Wirausaha

SEJAK akhir Februari 2017 hingga akhir Desember 2017, LSM kami melakukan serangkaian kegiatan di Tuban, Bojonegoro, dan Ngawi. Pada caturwulan terakhir 2017, kami memperluas jangkauan wilayah kegiatan hingga ke Lamongan dan Gresik.

Ada 3 kegiatan utama yang kami lakukan, yaitu rekrutmen agen, pelatihan agen, dan pelatihan perempuan wirausaha—kami menyebutnya sebagai training for female entrepreneur. Masing-masing saling berkaitan (boleh kita kategorikan sebagai tahapan) dan harus urut. Pelatihan perempuan wirausaha tak boleh mendahului pelatihan agen dan lebih-lebih rekrutmen agen.

Program kami kali ini memang cukup menarik dan menantang. Biasanya, program pelatihan didesain menggunakan pendekatan pemberdayaan berdasarkan dokumen hasil PRA dan lain-lain sebagai acuan awal. Anggota masyarakat diajak berembuk melalui kelompok kewilayahan (musyawarah RT/RW, musyawarah dusun, musyawarah desa, dan seterusnya), kelompok sosial-ekonomi (arisan, PKK, tahlilan, yasinan, dibaan, dan lain-lain), dan sebagainya. Mereka difasilitasi untuk merumuskan permasalahan yang mereka hadapi, alternatif solusi yang paling mungkin mereka tempuh, dan prioritas keduanya. Melalui pelbagai tahap itu, pelatihan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.


Senin, 12 Juni 2017

Mencari Jalan Pintas Pemberdayaan Perempuan, Mungkinkah? [Resensi "Tiada Jalan Pintas" - Nicky May]




Data Buku
Judul: Tiada Jalan Pintas, Panduan untuk Pendamping Kelompok Perempuan
Penyunting: Nicky May & The Networkers
Penerbit: LKPSM, Yogyakarta
Cetakan: I, 1993
Ukuran: 16,5 × 23,6 cm
Tebal: vi + 206 hlm.




SETIAP pengalaman tak ada yang sia-sia. Rupanya, adagium itu yang mendorong Nicky May dan mitra kerjanya, The Networkers, menyunting buku bertajuk No Short Cuts A Starter Resource Book For Women’s Group Worker. Buku yang kemudian diterjemahkan oleh Tim LKPSM NU DIY dan diterbitkan pada 1993 dengan judul Tiada Jalan Pintas, Panduan untuk Pendamping Kelompok Perempuan itu sejatinya adalah catatan pengalaman relawan yang terlibat dengan kelompok-kelompok perempuan di Afrika.


"Perempuan belum menjadi subyek pembangunan di desanya. Mereka dilibatkan hanya sebatas formalitas belaka."

Dalam buku itu, May mengawali uraiannya dengan pertanyaan-pertanyaan kunci bagi relawan, pendamping, fasilitator, atau konsultan dalam mengelola program pemberdayaan perempuan khususnya di perdesaan. Melalui pertanyaan-pertanyaan itu, May berhasil merangsang pembacanya untuk memikirkan ulang tentang program yang sedang ia dampingi secara kritis. Lebih lanjut, sebagai jawabnya, May memberikan panduan praktis yang mudah dipahami dan diaplikasikan pada kelompok-kelompok perempuan lain. Maka, meski telah berumur lebih dari 2 dasawarsa, buku ini tetap relevan dalam fungsinya sebagai referensi komplementer.