Selasa, 18 April 2017

Merawat Ingatan tentang Mbah Kakung [Resensi Novel "Sang Patriot" - Irma Devita]




Data Buku
Judul: Sang Patriot
Penulis: Irma Devita
Penyunting: Agus Hadiyono
Penerbit: Inti Dinamika Publisher
Cetakan: I, Februari 2014
Ukuran: 13 × 20,5 cm
Tebal: 280 hlm.
ISBN: 978-602-14969-0-9


Mbah, Irma janji, suatu saat kelak Irma akan menuliskan cerita tentang Mbah Kakung…”. Begitulah janji Irma Devita kepada Rukmini, neneknya. Meskipun waktu itu, dia tak tahu caranya. Dia masih belia. Tapi, tujuannya mulia. Irma berharap bahwa dengannya perjuangan kakeknya, mbah kakung-nya dalam bahasa Jawa, dapat dikenang. Generasi kini dan mendatang beroleh warisan keteladanan.

Minggu, 16 April 2017

Leky

ORA oleh mengidolakan uwong sakliyane kangjeng nabi. Murtad kuwi! Kapir!” kata kawan SD saya.

Romannya serius. Saya cengengesan.

Sergahnya, “Heh, iya, kuwi jare kiaiku.”

Saya mengangkat bahu. Tersenyum. “Ngajimu durung jangkep,” kata saya.

Hatinya panas. Ia mengejek, “Kapir, kapir, kapir…

Namanya anak-anak. Bisa tengkar, tapi sebentar kemudian berderai tawa dalam permainan. Tak ada jabat tangan. Tak ada kata maaf. Tapi mereka sama tahu bahwa mereka telah saling memaafkan, bahkan sebelum kejadian tak mengenakkan itu terjadi. Begitulah kepolosan yang mereka punya.

Saya maklum. Perdebatan dengan kawan saya terjadi tanpa rencana. Ini hanya soal pujaan. Pemeluk Islam mafhum bahwa kangjeng nabi manusia utama. Ini mutlak dalam aras iman. Seperti waktu kawan saya itu saya tanya tentang sebabnya. Ia berkeras, “Ya, pokoke kudu ngunu!” Ya, pokoknya. Begitulah yang hingga kini jamak dianggap sebagai iman. Lugas. Tanpa syarat. Bebas dari intervensi nalar. Meskipun yang terakhir itu disebut-sebut sebagai nikmat Tuhan yang dapat meningkatkan derajat iman.

Sri Mulai Pangkas Anggaran

SAYA tak punya HP sendiri. Pakai HP anak saya,” jawabnya ketika salah seorang dari kami menanyakan tentang kepemilikan telepon seluler kepadanya. Tampaknya, dia tak terlalu ambil peduli soal gawai. Tak seperti galibnya orang kekinian. Mungkin aktivitas kesehariannya memang tak menuntutnya untuk memilikinya. Bahkan untuk yang berfitur terbatas. Sekadar untuk telepon atau mengirim pesan pendek, maksud saya.

Kamis, 16 April 2015

Siswa Berprestasi Raih Beasiswa Komunitas Makgradak

Bayangkan, apa jadinya bila Anda sangat ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, namun kondisi ekonomi orang tua Anda tak memungkinkan untuk itu? Sedih, putus asa, dan entah apa lagi yang bakal Anda rasakan.

"Pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara yang harus ditunaikan demi tercapainya Indonesia yang bermartabat"

Di negeri yang kita cintai ini, masih banyak anak-anak mengalami hal itu. Nyata, bukan sekadar imajinasi seperti yang baru saja Anda lakukan. Pemerintah memang telah cukup memerhatikan mimpi dan juga potensi anak-anak itu. Tak sedikit dana telah dialokasikan khusus untuk pemenuhan hak pendidikan. Sebut saja, BOS, DAK, PKH, dan PNPM. Masih banyak lagi yang lainnya; termasuk dana kemitraan untuk beasiswa dan lain-lain. Di sisi lain, pemerintah juga telah banyak menerbitkan regulasi pendukung. Ambil contoh, Permendikbud No. 60 Tahun 2011 tentang Larangan Pungutan Biaya Pendidikan pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama dan PP No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan.

Kamis, 09 Januari 2014

PNPM dan Pembangunan Karakter Bangsa


BERKENAAN dengan tema Indonesia disebut sebagai Bangsa yang Lembek, Benarkah? yang terkandung dalam pesan (artikel) berjudul Tetap harus dimulai, Sekalipun belum tentu Selesai di www.darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa pendapat tersebut benar adanya. Bangsa ini memerlukan sikap pragmatis dalam arti segera cancut tali wanda; segera bertindak untuk kepentingan bersama, untuk memperbaiki kondisi, di sini dan saat ini. Saya punya satu cerita.

Bulan lalu (23/12), saya diundang untuk mengikuti Workshop Evaluasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan di Hotel Grand Pujon View, Pujon, Malang. Berdasarkan monogram, acara akan dimulai pukul 07.00 WIB. Seluruh peserta wajib hadir tepat waktu, karena acara dianggap sungguh penting.

Demi menghadiri acara mahapenting itu, saya harus berangkat pukul 04.15 WIB dari Mojokerto. Saya sempat singgah di rumah orang tua saya. Sebentar saja, lalu segera melanjutkan perjalanan ke Pujon. Hasilnya, saya dapat hadir tepat pukul 07.00 WIB.

Namun, betapa terkejutnya saya, ternyata masih sedikit sekali peserta yang hadir. Baru belasan orang termasuk saya. Kepada seorang teman yang kebetulan menghubungi saya melalui WhatsApp, saya mengeluh tentang keterkejutan, lebih tepatnya kejengkelan, saya itu. Teman saya berkomentar, “Kamu masih di Indonesia kan? Di sini jika tidak telat dianggap kurang afdal… .” Ah! Saya berharap ini bukanlah Indonesia...