Selasa, 05 Maret 2019

Lada, Lada, Lada! [Resensi “Perdagangan Lada Abad XVII” – P. Swantoro]



Data Buku
Judul: Perdagangan Lada Abad XVII: Perebutan
“Emas” Putih dan Hitam di Nusantara
Penulis: P. Swantoro
Penerbit: KPG, Jakarta
Cetakan: I, Januari 2019
Ukuran: 13 × 19 cm
Tebal: x + 107 hlm.
ISBN: 978-602-481-084-9



LADA bukanlah buah dari pohon yang berbatang teguh dan kuat, melainkan dari tanaman merambat yang batangnya benjol-benjol.” (hlm. 7) Demikian P. Swantoro memulai kisahnya.

Saya mengenal lada (Piper Albi Linn) dengan sebutan merica. Di tempat lain, ada yang menyebutnya sahang.

Saat saya masih sekolah dasar, guru saya bercerita bahwa lada adalah salah satu rempah yang ingin dikuasai oleh Portugis di Maluku. Seketika, saya membayangkan pohon tinggi besar yang hanya ada di Maluku.

Pohon besar? Ya, bagaimana lagi, guru saya tak menjelaskan tumbuhan itu secara detail.

Rabu, 30 Januari 2019

Desa, Sekali Lagi. [Resensi “Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa” – Nurhady Sirimorok]




Data Buku
Judul: Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa:
Melihat Desa Lebih Dekat
Penulis: Nurhady Sirimorok
Penerbit: EA Books, Yogyakarta
Cetakan: I, Desember 2018
Ukuran: 13 × 19 cm
Tebal: vi + 162 hlm.
ISBN: 978-602-51695-4-0



BANDUNG Mawardi—selanjutnya kita sebut ia sebagai Mawar sesuai panggilannya sejak kecil—dalam Nostalgia Desa menduga pembuat Undang-Undang Desa tak pernah baca dan tak punya buku Desa karangan Soetardjo Kartohadikoesoemo. Esai itu terpilih untuk dibukukan dalam Berumah di Buku.

Senin, 14 Januari 2019

Membaca Desa, Membaca Kita [Resensi “Jagoan dan Kekuasaan” – Riza Multazam Luthfy]





Data Buku
Judul: Jagoan dan Kekuasaan
Penulis: Riza Multazam Luthfy
Penerbit: BasaBasi, Yogyakarta
Cetakan: I, Oktober 2018
Ukuran: 14 × 20 cm
Tebal: 168 hlm.
ISBN: 978-602-5783-42-5



MESTINYA, desa adalah kabar gembira. Seperti lirik Paman Datang karya Masagus Abdullah Totong Mahmoed (A.T. Mahmud): seorang kemenakan menjadi girang tak terperi karena pamannya berjanji akan mengajaknya berlibur ke desa. Ia serta-merta membayangkan mandi di sungai, turun ke sawah, dan menggiring kerbau ke kandang. Menggembirakan, bukan?

Senin, 07 Januari 2019

Menengok Masa Lalu Itu Perlu [Resensi “Masa Lalu Selalu Aktual Jilid II” – P. Swantoro]




Data Buku
Judul: Masa Lalu Selalu Aktual Jilid II
Penulis: P. Swantoro
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta
Cetakan: I, September 2018
Ukuran: 14 × 21 cm
Tebal: xi + 392 hlm.
ISBN: 978-602-481-029-0



“SEJARAH terbentuk dari siklus. Riwayat berputar seperti roda gerobak sapi,” kata Goenawan Mohamad, “masa baik datang, tapi nanti masa buruk menggantikan.” Justru sebab itulah, Polycarpus Swantoro menerbitkan buku ini: agar kita belajar sesuatu dari masa lalu. Agar kita mampu senantiasa mewawas diri.

Senin, 31 Desember 2018

Apa Kabar Reformasi? [Resensi “Kita Hari Ini 20 Tahun Lalu”]





Data Buku
Judul: Kita Hari Ini 20 Tahun Lalu
Penyusun: Redaksi KPG dan Litbang Kompas
Penerbit: KPG, Jakarta
Cetakan: I, Agustus 2018
Ukuran: 17 × 24 cm
Tebal: viii + 256 hlm.
ISBN: 978-602-424-860-4



“DOKUMENTASI adalah alat untuk memperpanjang ingatan, memperdalam, dan memperluasnya,” kata H.B. Jassin. Kalimat itu dikutip oleh Pamusuk Eneste dalam pengantar di buku yang ditulis Jassin, Surat-surat 1943-1983. Jassin memang dikenal luas sebagai orang yang tekun dalam membuat dokumentasi. Kliping termasuk di dalamnya.

Rony Kurniawan Pratama mencatat, selain Jassin, setidaknya ada dua nama yang hasil dokumentasinya bermanfaat bagi orang banyak: Pramoedya Ananta Toer dan Ragil Suwarna Pragolapati. Keduanya juga seorang sastrawan.

Pramoedya Ananta Toer gemar mengkliping sejak zaman Jepang. Ia tularkan ketekunannya itu kepada mahasiswanya di Universitas Res Publica (sekarang menjadi Universitas Trisakti). Ia suruh mereka membikin laporan kliping. Sayang, semua kliping, termasuk karya mahasiwanya, itu dibakar habis oleh jiwa-jiwa yang kerdil.