MAS
DHAYA terlibat percakapan dengan ummi-nya.
Kemarin sore. Saya lèyèhan di lantai.
Di sampingnya.
“Besok,
kalau aku (me)nangis, pulangnya besoknya lagi aé. Pagi sekali,” katanya.
“Alasan,”
komentar ummi-nya, “terus kamu berencana
mau (me)nangis besok?”
Mas
Dhaya tertawa. Jawabnya, “Iya. Aku masih kangen sama abi.”
“Hèlèh, kamu gêmbèng kåyåk abi-mu,” ejek ummi-nya.
Ia
beringsut memeluk saya. Erat. Saya cium rambutnya.